Jumat, 12 Maret 2010


DBD
( DEMAM BERDARAH DENGUE )





OLEH
KELOMPOK 2
EDY RUDIANTO 09 1101 2022


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2010

BAB 1
PENDAHULUAN

Penyakit DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat, di Negara – Negara tropis di kawasan pasifik barat dan asia tenggara. Di delapan Negara tropis DBD termasuk sepuluh penyakit utama penyebab kematian dan perawatan anak – anak di Rumah Sakit.Di Indonesia DBD pertama kali di temukan di Surabaya dan jakarta kemudian menyusul laporan dari daerah lain di Indonesia. DBD merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan, karena angka kematian yang tinggi, terutama pada anak dan penyebaran yang makin luas. Penyakit ini semula hanya di temukan di kota besar, namun beberapa tahun terakhir terdapat pula di daerah Sub urban dan pedesaan yang mulai padat penduduknya. ( suroso, 1984 ).
Angka kematian kasus DBD pada penderita yang tidak segera mendapat perawatan mencapai 50 %, tetapi angka tersebut dapat di turunkan menjadi 5 % bahkan 3 % atau lebih rendah lagi dengan tindakan cepat. Sampai saat ini diagnosis DBD terutama di dasarkan atas gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium darah untuk mengetahui gejala syoknya ( subandrio, 1989).
Meskipun telah banyak kemajuan telah dicapai dalam penanganan pasien DBD sehingga mortalitas sangat menurun tetapi morbiditas tetap tinggi, sehingga DBD tetap merupakan masalah kesehatan yang rumit. Keberhasilan penanganan penderita DBD berpangkal pada perawatan yang intensif karena masih banyak masalah pada penyakit ini yang belum dapat di terangkan. Dalam hal ini deteksi dini pendetrita dan pengawasan sangatlah penting artinya ( sunarto,1991 A ).
Insiden DBD meningkat pada musim hujan antara bulan oktober sampai maret / april tahun berikutnya, sehingga pada bulan – bulan tersebut kecurigaan terhadap DBD perlu lebih di pertinggi. Dengan kriteria WHO, maka setiap demam pada anak di daerah endemis DBD, lebih – lebih pada masa peledakan DBD harus di curigai sebagai DBD.meskipun gejala demikian bisa juga terdapat pada infeksi lain,seperti infeksi saluran kemih akut, faringitis akut, dan eksaserbasi demam rematik.anak dengan demam 2 – 7 hari di daerah endemis DBD lebih – lebih pada musim hujan harus dicurigai DBD( sunarto, 1991 B).
Penatalaksanaan syok pada DBD merupakan masalah yang penting karena angka kematian akan masih tinggi apabila syok akan di tanggulangi secara dini.perdarahan kulit merupakan bentuk perdarahan yang paling sering di temukan pada penderita DBD. Di daerah endemis DBD uji terniquet merupakan satu pemeriksaan penunjang presumtif bagi diagnosa DBD, apabila di lakukan pada anak yang menderita demam lebih dari 2 hari tampa sebab yang jelas.( sumarmo, 1983 ).

































BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


Pengertian
¯ Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan (adsense.2009. ¶ 1. http://www.infopenyakit.com. Diperoleh tanggal 03 Maret 2010).
¯ Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai daengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjor & Suprohaita : 2000 : 419)
¯ Dengaue Haemoragic Fever adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue tipe I-IV dengan infeksi klinis dengan 5-7 hari disertai gejala paerdarahan dan jika timbul renjatan angka kaematiannya cukup tinggi (UPF IKA,1994 : 201)

Etiologi
¯ Virus Dengue
Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk kedalam Arbovirus (Arthropodborn Virus) group B, dari empat tipe yaitu virus Dengue Tipe I- IV tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologi
¯ Vektor
Virus Dengue serotype I – IV ditularkan melalui vector yaitu nyamuk Aedes Aegypty, nyamuk Aedes Albopictus, Aedes Polynesiensis dan beberapa species lain tetapi merupakan vector yang kurang berperan. Infaeksi dengan salah satu serotype akan menimbulkan antibody seumur hidupterhadap serotype yang bersangkutan, tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotype jenis yang lainnya (Arief Mansjoer & Suprohaita : 2000 ; 420)
Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan air yang bersih yang terdapat pada bejana-bejana yang terdapat di dalam rumah (AEdes Aegepty) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang-lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya (Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari adan senja hari (Soedarto : 1990 ; 37)
¯ Host
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapat imunisasi yang specific tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya atau virus dengue tipe lainnya. DHF akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengan tipe tertaentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih, terjadi juga pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plaasenta (Soedarto, 1990 ; 38)

Patofisiologi
Bila virus dengue telah masuk ke tubuh penderita, akan menimbulkan viremia. Hal ini menyebabkan pengaktifan complement asehingga terjadi komplek imun Antibodi-virus. Pengaktifan tersebut akan membentuk dan melepaskan zat C3a, C5a, bradikinin, serotonin, trombin, histamine yang merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi hipertermi yang akan meningkatkan reabsorbsi Na + dan air sehingga terjadi hipovolumi. Hipovolumi juga dapat disebabkan peningkatan permiabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran plasma Adanya komplek imun antibody-virus juga menimbulkan agreggasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, coagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi syok, dan jika syok tidak teratasi terjadi hypoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga bisa disebabkan karena kebocoran plasma, karena kebocoran plasma bisa menyebabkan perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun, dan jika tidak teratasi akan terjadi hypoxia jaringan .
Masa inkubasi virus dengue 3 – 15 hari (rata-rata 5-8 hari). Virus hanya dapat hidup dalam sael hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia.
( PATOFISIOLOGI TERLAMPIR )

Klasifikasi
WHO 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan , yaitu :
Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji torniguet positif, trombositopenia, dan hemokonsentrasi
Derajat II : Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematomisis, melena, perdarahan gusi.
Derajat III : Diatandai oleh gejala kegagalan peredaran darah, seperti : nadi lemah dan cepat (> 120 x/mnt) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg), tekanan darah menurun.
Derajat IV : Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur, anggota gerak teraba dingin, berkeringat, kulit tampak biru.

Derajat (WHO 1997)
Derajat I Demam dengan test rumple leed positif
Derajat II Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain
Derajat III Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien amenjadi gelisah
Derajat IV syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur

Manifestasi klinik
v Demam
Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2-7 hari kemudian menuju turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsungnya demam, gejala-gejala klinik yang tidak specific misalnya : anoreksi,nyeri punggung, nyeri tulang dan persedian, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyertainya (Soedarto, 1990 : 39)
v Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2-3 demam dan pada umumnya terjadi pada kulit adan dapat berupa uji torniguet yang positif, mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, ptikie, dan purpura (Soedarto, 1990 ;39). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematomisis (Nelson, 1993 ; 296). Perdarahan gastrointestinal biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat (Ngastiyah, 1995 ; 349)
v Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang kurang gizi ada juga hepatomegali. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus diperhatikan kemungkina akan terjadi renjata pada penderita (Soedarto, 1995 ; 39)
v Renjatan (syok)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak penderita sakit, dimulai dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung jari tangan , jari kaki, sianosis di sekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukkan pragnosis yang buruk (Soedarto ; 39)
Tanda dan Gejala
Selain tanda dan gejala yang ditampulkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dan gejala lain adalah :
hati membesar, nyeri tekan yang diperkuat dengan reaksi perabaan
Asites
Cairan dalam rongga pleura
Ensephalopathy : kejang, gelisah, soporus → koma
Gejala klinik lain, yaitu nyeri apigastrium, muntah-muntah, diare maupun obstipasi dan kejang-kejang (Soedarto, 1995 ; 39)

Pemeriksaan dan diagnosa
Untuk menegakkan diagnosa DHF selain pada pemeriksaan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga dapat ditegakkan dangan pemeriksaan laboratorium, yakni :
Trombositopenia (≤ 100.000/mm3)
Hb dan PCV meningkat (≥ 20%)
Leukopenia, mungkin normal atau leukositosis
Isolasoi virus dengan serologi (UPF IKA, 1994)
Pemeriksaan serologi yaitu titer CF (Complement Fixation) dan anti bodi HI (Haemoglutination Inhibition) (WHO, 1998 : 69) yang hasilnya adalah :
Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang dari 1/20 dan meningkat sampai kurang dari 1/1280 dan pada stadium rekovalensi pada infeksi kedua atau selanjutnya titer antibodi HI dalam vase akut ≥ 1/20 dan akan meningkat dalam stadium rekovalensi sampai lebih dari 1/2560. Apabila titer HI pada vase akut ≥ 1/1280 maka kadang titernya dalam stadium rekovalensi tidak naik lagi. (UPF IKA, 1994 : 202)
Pada renjatan yang berat maka diperiksa :
Hb, PCV berulang kali (setiap jam atau 4-6 jam bila sudah menunjukkan tanda perbaikan
Faal haemostasis
X photo dada
Elektrokardiogram
Serum creatinin.

Penatalaksanaan
Pada dasarnya pengobatan pasien DHF bersifat simtomatis dan suportif (Ngastiyah, 1995, 344)
DHF ringan tidak perlu dirawat, DHF sedang kadang-kadang tidak memerlukan perawatan, apabila orang tua dapat diikut sertakan dalam pengawasan penderita dirumah dengan kewaspadaan terjadinya syok, yaitu perburukan gejala klinik pada hari ke 3 – 7 sakit (Purnawan,dkk, 1995 ; 571)
Indikasi rawat inap pada dugaan infeksi virus Dengue , yaitu panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang ), atau kejang-kejang. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji torniquet positif atau negatif, kesakitan, Hb dan PCV meningkat, panas disertai perdarahan, panas disertai renjatan. (UPF IKA, 1994; 203)

Penatalaksanaan DHF (UPF IKA, 1994; 203-206)
Belum atau tanpa renjatan
Grade I dan II
Hiperpireksia (suhu ≥ 40 ° C )
diatasi dengan antipiuretik dan “surface cooling”, antipiretik yang dapat diberikan adalah golongan asetaminofen, jangan diaberikan asetosal
Terapi Cairan
· Infus cairan RL dengan dosis 75 cc/kg BB/hari untuk anak dengan BB kurang dari 10 Kg atau 50 cc/kg BB/ hari untuk anak dengan BB lebih dari 10 Kg bersama-sama diberikan minum oralit, air buah, susu secukupnya
· Untuk kasus yang menunjukkan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin
· Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalamkurung waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :
a. 100 cc/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg
b. 75 cc/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 Kg
c. 60 cc/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 Kg
d. 50 cc/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 Kg
e. Obat-obatan lain : Antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas, pemberian transfusi 15 cc/Kg BB/hari apabila terjadi perdarahan hebat.

Dengan Renjatan
Grade III
Berikan infus RL 20 cc/Kg BB/1 jam
Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur > 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekwensi < 120 x/mnt, dan akral hangat) lanjutkan dengan RL 10 cc/Kg BB/1 jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus terasebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu (24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan) perhitungan kebutuhan cairan dalam waktu 24 jam sama dengan tersebut di atas.
Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 cc/Kg BB/1 jam tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat & lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma expander (Dextran L atau yang lainnya sebanyak 10 cc/KgBB/1 jam dan dapat diulang maximal 30 cc/ Kg BB dalam kurun waktu 24 jam) Jika keadaan umum membaik dilanjutkan cairan RL sebanyak kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
Apabila 1 jam setelah pemberian cairan RL 10 cc/Kg BB/ 1 Jam keadaan atensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang dari 80 mmHg, nadi cepat & lemah, akral dingin, maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma expander atau dextran L atau yang lainnya sebanyak 10 cc/Kg BB/1 jam dan dapat diulag maximal 30 cc/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.

Pencegahan Penyakit Demam Berdarah
Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi sampai sore, karena nyamuk aedes aktif di siang hari (bukan malam hari). Misalnya hindarkan berada di lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD nya. Beberapa cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD melalui metode pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah :
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat. perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.
Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) pada tempat air kolam, dan bakteri (Bt.H-14).
Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion).
Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
(adsense.2009. ¶ 1. http://www.infopenyakit.com. Diperoleh tanggal 03 Maret 2010).







BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DBD


Dalam asuhan keperawatan digunakan pendekatan proses keperawatan sebagai cara untuk mengatasi masalah klien.
Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu : pengkajian keperawatan, identifikasi, analisa masalah (diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi).
Pengkajian Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh perawat. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat terkumpul dalam bentuk data. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian : wawancara, pemeriksaan (fisik, laboratorium, rontgen), observasi, konsultasi.
a. Data subyektif
Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada pasien DHF, data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy, 1995 yaitu :
Lemah.
Panas atau demam.
Sakit kepala.
Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.
Nyeri ulu hati.
Nyeri pada otot dan sendi.
Pegal-pegal pada seluruh tubuh.
Konstipasi (sembelit).
b. Data obyektif :
Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain :
Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.
Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.
Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis, ekimosis, hematoma, hematemesis, melena.
Hiperemia pada tenggorokan.
Nyeri tekan pada epigastrik.
Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin, gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.
Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai :
Ig G dengue positif.
Trombositopenia.
Hemoglobin meningkat > 20 %.
Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia.
ada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia, peningkatan limfosit, monosit, dan basofil
SGOT/SGPT mungkin meningkat.
Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
Waktu perdarahan memanjang.
Asidosis metabolik.
Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.

Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF menurut Christiante Effendy, 1995 yaitu :
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus).
h.Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.
Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.
Perencanaan Keperawatan
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
Tujuan :
Suhu tubuh normal (36 – 370C).
Pasien bebas dari demam.
Intervensi :
1. Kaji saat timbulnya demam.
Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
2. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam.
Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
3. Anjurkan pasien untuk banyak minum liter/24 jam.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
4. Berikan kompres hangat.
Rasional : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh.
5. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal.
Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh.
6. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.
Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi.

Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
Tujuan :
Rasa nyaman pasien terpenuhi.
Nyeri berkurang atau hilang.
Intervensi :
Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien
Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.
Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri
Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.
Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami.
Berikan obat-obat analgetik
Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan.
Intervensi :
Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.
Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.
Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan.
Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien.
Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.
Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan .
Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional : Untuk menghindari mual.
Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi.
Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter.
Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.
Ukur berat badan pasien setiap minggu.
Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien

Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
Tujuan :
Volume cairan terpenuhi.
Intervensi :
Kaji keadaan umum pasien (lemah, pucat, takikardi) serta tanda-tanda vital.
Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya.
Observasi tanda-tanda syock.
Rasional : Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok.
Berikan cairan intravena sesuai program dokter
Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami kekurangan cairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke dalam pembuluh darah.
Anjurkan pasien untuk banyak minum.
Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh.
Catat intake dan output.
Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan.

Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Tujuan :
Pasien mampu mandiri setelah bebas demam.
Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi
Intervensi :
Kaji keluhan pasien.
Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien.
Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan pasien.
Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat.
Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien.
Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh
Tujuan :
Tidak terjadi syok hipovolemik.
Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Keadaan umum baik.
Intervensi :
1. Monitor keadaan umum pasien
Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani.
2. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.
Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik.
3. Monitor tanda perdarahan.
Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik.
4. Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
5. Berikan transfusi sesuai program dokter.
Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang.
6. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik.
Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin.

Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus).
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi pada pasien.
Intervensi :
Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus.
Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadi infeksi.
Observasi tanda-tanda vital.
Rasional : Menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital.
Observasi daerah pemasangan infus.
Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.
Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis.
Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut.

Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.
Tujuan :
Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
Jumlah trombosit meningkat.
Intervensi :
1. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah.
2. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat
Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan.
3. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut.
Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin.
4. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya.
Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan.

Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.
Tujuan :
Kecemasan berkurang.
Intervensi :
Kaji rasa cemas yang dialami pasien.
Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien.
Jalin hubungan saling percaya dengan pasien.
Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat.
Tunjukkan sifat empati
Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan baik.
Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Meringankan beban pikiran pasien.
Gunakan komunikasi terapeutik
Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien memberikan hasil yang efektif.

Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien anak dengan DHF disesuaikan dengan intervensi yang telah direncanakan.
Evaluasi Keperawatan.
Hasil asuhan keperawatan pada klien anak dengan DHF sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau perubahan yang terjadi pada pasien.
Adapun sasaran evaluasi pada pasien demam berdarah dengue sebagai berikut :
Suhu tubuh pasien normal (36- 370C), pasien bebas dari demam.
Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan.
Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada pasien terpenuhi.
Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi.
Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik dengan tanda vital dalam batas normal.
Infeksi tidak terjadi.
Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.
Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari perawat tentang proses penyakitnya.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar